Sejumput Rasa Kecewa dan Sejuta Harapan Untuk Pendidikan Tanah Air

Indonesia merupakan negara majemuk yang dikenal akan keanekaragamannya, keunikannya, dan kekayaan sumber daya alamnya. Namun, ketika berbicara banyak tentang Indonesia maka akan terbesit dalam benak kita bahwa begitu banyak permasalahan yang sedang terjadi dalam negeri ini. Salah satunya adalah, sistem pendidikan Indonesia yang penuh dengan kontroversi dan merupakan yang terburuk di dunia. Kemajuan dan perkembangan teknologi semakin membawa Indonesia menjadi negara baru yang berdiri di tengah bangsa lain. Kami pun begitu merasakan ketertinggalan dalam mutu pendidikan setelah membandingkannya dengan negara lain. Ada masalah yang sangat serius dalam dunia pendidikan di negara kita. Sebab itu Indonesia harus melakukan reformasi dalam dunia pendidikan dengan menciptakan proses pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel. Namun, tidak berarti pendidikan di Indonesia gagal. Karena, masih banyak anak negeri yang mampu menorehkan prestasi gemilang demi mengharumkan nama bangsa di kancah nasional maupun Internasional. Lalu, bagaimana dengan sederetan pertanyaan dari khalayak ramai tentang pendidikan Indonesia yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka?

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan porsi. Pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan pelajar, mengingat mereka merupakan insan-insan dengan sejuta potensi dan kemampuan yang berbeda-beda. Lembaga pendidikan haruslah menjadi wadah bagi peserta didik agar mereka dapat menjadi orang-orang yang kompeten di bidangnya masing-masing. Sistem pendidikan Indonesia yang menuntut pelajar menguasai berbagai mata pelajaran, mengakibatkan mereka mengalami kesulitan dalam mengembangkan potensi dan kemampuan diri mereka.

Saat ini kita sedang diramaikan oleh kontroversial penerapan kurikulum 2013. Pada kurikulum ini, para peserta didik diharapkan agar menjadi generasi yang berkarakter sesuai pancasila. Karena, pemerintah telah merubah sistem pelajaran di sekolah dengan memprioritaskan pendidikan karakter dibanding kecerdasan akademik. Kurikulum yang saat ini tengah gencar disosialisasikan oleh pemerintah nyatanya tidak dapat diimplementasikan dalam rentang waktu yang sangat dekat. Mengapa? Karena pada faktanya masih terdapat berbagai kendala yang dihadapi oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Seperti, pengadaan buku pelajaran, pengadaan fasilitas penunjang sarana pembelajaran, dan pemahaman guru yang kurang akan isi/konten kurikulum 2013. Hal ini dapat dibuktikan dengan kemerosotan daya tarik peserta didik dalam belajar. Degradasi ini dapat kita tinjau dari segi lingkungan pembelajaran di kelas yang terkesan masih bergaya konvensional(kuno). Gaya belajar seperti ini cenderung diaplikasikan dan digandrungi oleh guru-guru dengan mengondisikan peserta didik untuk duduk rapi secara pasif, memperhatikan penjelasan dari guru dengan seksama tanpa diberi kesempatan untuk bertukar pendapat, dan menghafal setiap teks catatan yang diberikan. Sedangkan, proses pembelajaran harus mampu menghantarkan peserta didik agar dapat belajar secara aktif dan mampu berpikir kritis dalam diskusi kelas. Ditambah dengan padatnya jam pelajaran yang kerap membuat peserta didik resah menunggu berakhirnya jam pelajaran. Ya, para pelajar bangsa semakin terpuruk.

Tak hanya itu, salahnya persepsi guru akan konten dan sasaran kurikulum 2013 dalam membentuk peserta didik yang aktif dan kompeten telah mengakibatkan para peserta didik merasakan guncangan yang begitu hebat secara mental maupun fisik. Yang seringkali terjadi hanyalah sederetan instruksi tugas dari guru yang senantiasa bertengger di pundak ketika di dalam kelas. Sungguh, model pembelajaran seperti ini sangat menindas para peserta didik. Para pelajar bangsa tengah direduksi kepribadiannya oleh sistem pendidikan yang seakan menciptakan mereka sebagai manusia robot. Memang, pemberian tugas merupakan sebuah metode yang cukup efektif dalam melatih kemampuan siswa dalam memecahkan persoalan dari materi pelajaran yang telah disampaikan oleh guru di dalam kelas. Namun, bagaimana dengan pengaruh banyaknya tugas terhadap psikologis peserta didik? Salah satu studi menunjukkan bahwa terlalu banyak beban pekerjaan rumah akan menjadik faktor utama siswa mengalami stress, penurunan kesehatan, dan semakin tidak terpenuhinya kebutuhan pengembangan kehidupan dan kecakapan hidup lainnya akibat menghabiskan terlalu banyak waktu demi menyelesaikan berbagai tugas.

Disamping ada sejumput rasa kecewa, rakyat di tanah air memiliki harapan yang begitu besar akan dunia pendidikan Indonesia yang dapat mengantarkan generasi bangsa kepada kesuksesan. Tidak hanya menciptakan lulusan-lulusan intelek dengan keberhasilannya dalam kemampuan akademis, namun juga menjadi insan yang mampu memanusiakan manusia (humanis). Bagaimana tidak? Pendidikan agama di negeri ini ibarat anak tiri, dengan jatah hanya sekadarnya saja. Padahal, pendidikan agama merupakan solusi paling efektif dalam mengatasi berbagai problematika di Indonesia. Terutama,  lemahnya aspek moral/kepribadian siswa.

potret_pendidikan_indonesia_by_MusiKeras

Hal ini dapat terlihat dari fakta yang kerap terjadi di sekolah-sekolah, ketika seorang guru lebih menghargai hasil daripada sebuah proses. Mengingat aspek kejujuran telah tergantikan posisinya oleh nilai yang menjadi faktor utama keberhasilan, maka peserta didik pun turut menerapkan sekaligus mempertahankan budaya mencontek  yang seakan sudah mengakar kuat dalam kepribadian para pelajar bangsa. Bukankah yang terpenting dalam proses belajar mengajar adalah bagaimana proses dan peran siswa dalam memahami bahan(material) tersebut? Masihkah ada segelintir generasi muda yang masih bertumpu pada kejujuran? Masihkah ada guru-guru sejati dengan semangat revolusioner tanpa label berbasis KKN yang lebih menghargai suatu proses daripada hasil? Solusi ini kami kembalikan kepada pihak yang memiliki tanggung jawab besar dalam peningkatan mutu pendidikan sekolah. Termasuk perlunya menyelesaikan kualitas guru. Kualitas guru harus ditekankan agar demi berjalannya proses pendidikan dengan baik. Tidak hanya pada intelektualitas guru, namun juga secara psikologis. Bagaimana guru dapat memahami karakter/kepribadian masing-masing siswa. Bagaimana guru dapat berperan menjadi seorang pendidik yang mampu memberikan motivasi dan semangat bagi siswanya, bahwa mereka hidup tidak sekedar menjadi manusia yang berilmu, namun juga beramal, beriman, dan mampu memanusiakan manusia. Semoga tak ada lagi penekasan psikologis yang para pelajar rasakan, melainkan peningkatan kualitas guru yang mampu menjadi pendidik yang memiliki rasa keikhlasan dalam mengajar dan mampu memajukan pendidikan Indonesia.

Semoga, lembaga pendidikan Indonesia dapat bangkit dari keterpurukannya. Semoga dunia pendidikan Indonesia mampu melahirkan generasi-generasi berintelektualitas tinggi, memiliki SDM tinggi, berakhlak mulia, berkepribadian sesuai akidah agama dan pancasila, serta mampu berpikir kritis dalam menghadapi kerasnya zaman di beberapa dekade mendatang. Dirgahayu Indonesia-Ku!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s